Semarang, lpmedukasi.com- Kenakalan
remaja, merosotnya moral pemuda dan hilangnya karakter damai yang banyak
terjadi di Indonesia memunculkan suatu asumsi bahwa masih kurangnya
pendidikan agama di dalam lembaga pendidikan Indonesia.
Namun hal tersebut dibantah oleh Rumadi (Peneliti Senior Wahid Institute). Dia membuktikan dengan mengacu pada disertasi Selviana di Universitas YAI (2013) dengan judul Perilaku Moral pada Remaja: Riset di Sekolah Mahanaim.
Dalam disertasi tersebut, Selviana menguji bagaimana hubungan antara religiusitas, empati, situs jejaring sosial, dan social capital dengan perilaku moral remaja. Hasilnya dari 294 siswa SMK/SMA Mahanaim, menunjukkan religiusitas mempunyai pengaruh paling kecil terhadap perilaku moral, itu pun tidak berpengaruh langsung, tapi melalui faktor (dalam penelitian disebut: variabel) social capital (orang tua, guru, dan teman). Namun, yang lebih besar pengaruhnya adalah empati, jejaring sosial, dan social capital.
Melihat penelitian tersebut Rumadi menawarkan solusi terhadap pendidikan di Indonesia yaitu dengan pendidikan harus diarahkan untuk menumbuhkan empati, menfasilitasi peserta didik untuk memanfaatkan jejaring sosial yang sehat, dan menumbuhkan social capital yang berkualitas. Dia menambahkan bahwa penanaman ideologi kebangsaan harus lebih dipertegas, bukan hanya kepada murid, tapi juga kepada guru dan menjadikan toleransi sebagai point of view dalam melihat perbedaan.
Pemaparan tersebut disampaikan oleh alumnus Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang ini dalam Seminar Nasional yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu tarbiyah dan Keguruan (BEM FITK) di Audit I lantai 1 IAIN Walisongo Semarang (19/09).
Senada dengan Rumadi, Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang diwakili oleh A. Saifudin Mutaqi juga mengungkapkan program yang bisa meminimalisir kemerosotan moral yaitu dengan Waqfee Nou. “Program ini berjalan melalui perjanjian yang terjalin dengan orang tua anak sejak didalam kandungan”, ulas Saifudin. (Aam)
Namun hal tersebut dibantah oleh Rumadi (Peneliti Senior Wahid Institute). Dia membuktikan dengan mengacu pada disertasi Selviana di Universitas YAI (2013) dengan judul Perilaku Moral pada Remaja: Riset di Sekolah Mahanaim.
Dalam disertasi tersebut, Selviana menguji bagaimana hubungan antara religiusitas, empati, situs jejaring sosial, dan social capital dengan perilaku moral remaja. Hasilnya dari 294 siswa SMK/SMA Mahanaim, menunjukkan religiusitas mempunyai pengaruh paling kecil terhadap perilaku moral, itu pun tidak berpengaruh langsung, tapi melalui faktor (dalam penelitian disebut: variabel) social capital (orang tua, guru, dan teman). Namun, yang lebih besar pengaruhnya adalah empati, jejaring sosial, dan social capital.
Melihat penelitian tersebut Rumadi menawarkan solusi terhadap pendidikan di Indonesia yaitu dengan pendidikan harus diarahkan untuk menumbuhkan empati, menfasilitasi peserta didik untuk memanfaatkan jejaring sosial yang sehat, dan menumbuhkan social capital yang berkualitas. Dia menambahkan bahwa penanaman ideologi kebangsaan harus lebih dipertegas, bukan hanya kepada murid, tapi juga kepada guru dan menjadikan toleransi sebagai point of view dalam melihat perbedaan.
Pemaparan tersebut disampaikan oleh alumnus Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang ini dalam Seminar Nasional yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu tarbiyah dan Keguruan (BEM FITK) di Audit I lantai 1 IAIN Walisongo Semarang (19/09).
Senada dengan Rumadi, Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang diwakili oleh A. Saifudin Mutaqi juga mengungkapkan program yang bisa meminimalisir kemerosotan moral yaitu dengan Waqfee Nou. “Program ini berjalan melalui perjanjian yang terjalin dengan orang tua anak sejak didalam kandungan”, ulas Saifudin. (Aam)
0 komentar: