“Umat
Yahudi terbagi dalam tujuh puluh satu golongan. Umat Kristiani terbagi dalam
tujuh puluh dua golongan. Sedangkan umatku terbagi dalam tujuh puluh tiga
golongan. Mereka semuanya di neraka, kecuali satu golongan saja.” Kemudian
para sahabat bertanya, “mereka siapa wahai Rasulullah Saw.?” Lalu beliau
menjawab, “mereka yang mengikutiku dan para sahabatku.”
Pada
umumnya, kalangan muslim dari berbagai macam
golongan mengklaim dirinya sebagai penganut Ahlussunnah wal Jamaah. Bersandar
pada Hadis Nabi di atas yang secara eksplisit menuturkan bahwa hanya kelompok
tersebut yang diridhoi Allah SWT. dan kelak akan selamat di akhirat, sedangkan
kelompok-kelompok lain yang berjumlah sekian banyak akan terlempar.
Sangat
disayangkan tatkala Ahlussunnah wal Jamaah dijadikan sebagai senjata
untuk mengklaim kelompok-kelompok yang dianggap sesat, salah dan menyimpang
guna membenarkan apa yang telah dilakukan. Dapat pula semakin mengabsahkan
gerakan keagamaan yang sarat akan kekerasan. Dari situlah timbul pertanyaan,
apa yang terjadi dalam pemaknaan terhadap paham Ahlussunnah wal Jamaah.
Dewasa
ini pengusung paham Ahlussunnah wal
Jamaah adalah kelompok mayoritas di kalangan
umat Islam. Sehingga tidak dipungkiri, dapat ditemukan berbagai pemaknaan dari
paham tersebut. Terlihat dari ekpresi dan manifestasi yang mereka lakukan.
Salah satunya, dengan menganggap hanya ada pemahaman tunggal dan paham pihak
lain dianggap keliru. Jelas ini menjadi suatu hal yang mengkhawatirkan karena
dapat menyulut sebuah perpecahan.
Hal tersebut justru bertolak belakang dengan
misi yang diusung oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, sebagai tokoh
utama yang ingin membumikan Islam moderat dengan menampilkan Islam yang rahmatan
lil ‘alamin. Melalui pemahaman keagamaan yang mengedepankan toleransi dan
moderatisme.
Rahmatan
lil alamin
Hingga
kini Islam yang bernuansa rahmatan lil ‘alamin masih dipegang teguh dan
tetap menjadi cita-cita keberislaman muslim Indonesia. Pasalnya
dewasa ini gerakan-gerakan Islam radikal semakin ramai di tanah air. Melahirkan
berbagai konflik dan perselisihan yang sarat akan tindakan kekerasan hingga
berujung pada perpecahan.
Namun
usaha serta harapan untuk menegakkan Paradigma yang sesuai dengan realitas yang
dialami bangsa Indonesia dan penghayatan terhadap substansi ajaran Islam harus
tetap didengungkan. Sehingga dapat dijumpai wajah yang ramah dan toleran dari
Islam.
Terlebih
menjadikan pancasila sebagai platform diantara berbagai agama dan
golongan, di mana keislaman dan keindonesiaan dapat dipersandingkan dalam
pelaminan pancasila tanpa adanya sebuah pertentangan. Serta hidup damai dalam
bingkai kerukunan.
Toleransi
dan persaudaraan
Ukhuwwah
adalah persaudaraan, sedangkan tasamuh adalah toleransi. Merupakan pra-syarat
untuk memunculkan benih-benih keberagamaan yang moderat. Apalagi dalam konteks
keindonesiaan yang berkiblat pada kebhinekaan yang diperkuat dengan sistem
demokrasi, sikap moderasi menjadi sebuah keniscayaan.
Setiap
kalangan muslim harus berupaya melahirkan pandangan keberagamaan yang bernuansa
kedamaian, keadilan dan keadaban ditengah berkecamuknya golongan-golongan
ekstrim dan radikal, baik yang lahir dari keyakinan keberagamaan maupun sebagai
upaya perlawanan terhadap modernitas.
Sedangkan
kedudukan persaudaraan dalam Islam tidak kalah penting, pasalnya persaudaraan
dijadikan sebagai penyangga yang dianggap kokoh dalam tatanan kehidupan
bermasyarakat. Berawal dari hal tersebut, diharapkan dapat terbentuk bangsa
yang jaya dengan semangat gotong royong dan kebersamaan.
Hal penting yang perlu diperhatikan oleh generasi
muda Muslim Indonesia adalah senantiasa memiliki landasan pemikiran yang kuat
di satu sisi, akan tetapi yang tidak kalah penting yakni dapat menerjemahkan
pandangannya dalam kehidupan sosial yang relatif majemuk.
Oleh: Ulfatul Qoyimah (Mahasiswi PAI 2012 dan Sekretaris
LKaP PMII Gus Dur)
0 komentar: